foto : Anisa Fadila

dari Sampah Menjadi Benteng: Gerakan Pokmas Lirboyo Mapan bersama Polres Kediri Kota Melawan Narkoba

Bagikan Berita :

KEDIRI – Di sebuah sudut di Kota Kediri, tepatnya di Lingkungan Kemuning Kelurahan Lirboyo, Sabtu siang itu, warga berkumpul bukan hanya untuk belajar mengolah sampah. Mereka datang membawa harapan bahwa dari tumpukan plastik, daun kering, dan sisa dapur, lahir ruang-ruang baru yang menjaga mereka dari ancaman yang lebih berbahaya: narkoba yang perlahan merayap melalui celah-celah kehidupan modern.

Dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Sampah Rumah Tangga yang digelar Pokmas Lirboyo Mapan, aroma perubahan terasa menenangkan. Di balik tenda sederhana, Sat Resnarkoba Polres Kediri Kota hadir dengan pesan yang tak lagi sekadar peringatan, tetapi semacam panggilan jiwa: menjaga diri, menjaga keluarga, menjaga lingkungan, sebelum narkoba mengetuk pintu rumah tanpa suara.

Kasat Resnarkoba AKP Endro Purwandi selaku pemateri di hadapan warga dengan mata yang memantulkan rasa waspada. Menyampaikan Tahun 2025, katanya, bukan tahun yang ringan. Ada 75 laporan polisi, 125 tersangka, dan sabu seberat 1 kilogram yang berhasil disita—angka-angka yang cukup untuk membuat siapa pun menghela napas panjang.

“Zaman bergerak cepat. Teknologi jadi pintu baru. Narkoba sekarang bisa dipesan COD,” tuturnya sembari menekankan bahwa pil putih murah lima butir sepuluh ribu rupiah kini marak diincar anak muda yang dikecoh iming-iming ‘tenaga ekstra’.

Ia mengungkapkan adanya modus baru: sabu dikemas dalam ukuran “sepipet”, begitu kecil hingga hampir tampak seperti kebetulan. Namun justru karena kecil itulah, bahayanya semakin sulit dipantau. Karena itu ia meminta warga menjadi penjaga satu sama lain, memerhatikan perubahan perilaku, tak membiarkannya lewat begitu saja.

“Kalau melihat tanda-tanda aneh, monggo diwaspadai. Identitas pelapor Insyaallah aman. Dan jika hanya pengguna, rehabilitasi itu gratis,” katanya, suaranya mengalir penuh ketegasan namun tetap mengayomi.

Tapi apa hubungan antara narkoba dan kegiatan mengolah sampah? Ternyata jawabannya ada pada kata yang sederhana: ruang. Ruang untuk berkegiatan, ruang untuk berdaya dan ruang untuk merasa berarti.

“Ketika warga sibuk dengan hal-hal positif, punya komunitas, punya aktivitas bersama, ajakan negatif akan kehilangan pijakan,” ujar AKP Endro.

Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin Thoha, yang turut hadir, menyebut gerakan ini sebagai bukti bahwa perubahan tak harus datang dari kebijakan besar. Ia justru melihatnya sebagai gerakan kecil yang menggugah nurani—sampah diolah, lingkungan terjaga, hati pun ikut bersih.

Nanang Priyo Basuki, Ketua Pokmas Lirboyo Mapan, berdiri di antara peserta dengan nada yang tak kalah lembut namun penuh makna. Baginya, pelatihan ini adalah ikhtiar agar masyarakat tak hanya pintar mengolah sampah, tetapi juga mengolah diri—menjauh dari kegiatan terlarang, dari godaan menanam tanaman haram, dari segala hal yang bisa menyeret langkah ke dalam kegelapan hukum.

“Bercocok tanam itu terapi. Mengurusi tanah, merawat bibit, melihat sesuatu tumbuh dari tangan kita sendiri… itu menenangkan,” ucapnya. “Aktivitas ini bisa jadi obat bagi mereka yang berjuang pulih. Mengurangi stres, menstabilkan emosi, dan menjauhkan diri dari narkoba.”

Nanang menyebut gerakan ini sebagai langkah sederhana namun bermakna. Ajakan kepada masyarakat dan para tokoh muda untuk memilih hidup bermanfaat, bukan larut dalam lingkaran gelap. Baginya, sampah yang diolah menjadi rezeki adalah metafora paling kuat: sesuatu yang tak berharga pun bisa menjadi berkah bila disentuh niat baik.

“Kami cuma tak ingin ada anak-anak muda yang tersesat. Kami ingin mereka punya ruang untuk tumbuh, bukan tenggelam,” tutupnya.

Meski diwarnai hujan, Lirboyo pagi itu, suara mesin pencacah sampah berpadu lembut dengan pesan moral yang mengalun pelan. Ada harapan yang tumbuh dari tanah, dari sampah, dari tangan-tangan warga. Harapan bahwa Kota Kediri tak hanya melawan narkoba dengan hukum, tetapi juga dengan hal yang lebih kuat: kebersamaan, kesadaran, dan kegiatan positif yang menumbuhkan kembali makna hidup.

jurnalis : Sigit Cahya Setyawan
Bagikan Berita :