Suasana gotong royong warga di Kelurahan Bawang (Anisa Fadila)

Tanpa Menunggu Anggaran Pemerintah, Warga Kelurahan Bawang Tunjukkan Semangat Gotong Royong Bangun Jalan Menuju Rumah Masa Depan

Bagikan Berita :

KEDIRI — Terik matahari di Senin pagi (20/10), tidak mengurangi raut kebahagiaan warga dibuktikan suara adukan semen berpadu dengan tawa dan sapaan akrab warga Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren. Lelaki, perempuan, tua dan muda, semuanya turun tangan memperbaiki jalan menuju makam Centong. Tak ada anggaran pemerintah, tak ada proyek besar. Hanya ada satu hal yang bekerja di sana: semangat gotong royong yang tak lekang oleh waktu.

Di antara deru alat sederhana dan langkah kaki yang berdebu, terselip kisah ketulusan warga yang percaya bahwa membangun bukan selalu soal dana, melainkan kemauan.

Bukti Nyata Semangat Warga di Tengah Keterbatasan

Camat Pesantren, Yudi Kuncoro, hadir menyaksikan langsung denyut kebersamaan itu. Ia menyebut inisiatif warga Bawang sebagai contoh nyata bahwa pembangunan sejati lahir dari tangan masyarakat sendiri.

“Justru di tengah keterbatasan anggaran, inisiatif seperti ini membuktikan bahwa semangat membangun tidak harus menunggu APBD,” ujarnya dengan kagum.

Tahun ini, anggaran kelurahan memang mengalami refocusing, membuat proyek fisik seperti perbaikan jalan tak lagi bisa dibiayai dari dana pemerintah. Namun, hal itu tak memadamkan niat warga. Sebaliknya, api solidaritas justru menyala lebih terang.

Dari Warga untuk Warga: Sebuah Gerakan yang Tulus

Kepala Kelurahan Bawang, Much Kalimi, menyebut kegiatan ini sebagai cermin nyata kebersamaan. Sekitar 70 hingga 100 warga dari tiga lingkungan—Centong, Gande, dan Wurejo—ikut turun tangan.

“Bagi kami, makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ini rumah masa depan semua manusia. Karena itu, kami semua harus merasa memiliki dan menjaga,” tuturnya penuh makna.

Sekitar 245 meter persegi jalan diperbaiki secara swadaya. Materialnya—semen, pasir, batu—semuanya berasal dari sumbangan warga. Bahkan para tukang dan pekerja pun berasal dari lingkungan sekitar. Tidak ada honor, tidak ada upah, hanya niat tulus untuk berbuat baik.

Ketulusan yang Tumbuh dari Spontanitas

Suasana gotong royong warga di Kelurahan Bawang (Anisa Fadila)

Salah satu penggerak kegiatan, Agung Budi dari lingkungan Centong, bercerita bahwa semua bermula dari keprihatinan melihat pagar dan jalan menuju makam rusak akibat angin kencang beberapa waktu lalu.

“Warga lalu spontan bergerak. Ada yang membawa semen, ada yang menyumbang pasir, ada pula yang membantu tenaga dan konsumsi. Tidak ada kepanitiaan resmi, hanya hati yang terpanggil,” ungkapnya.

Dukungan pun datang dari berbagai pihak. Koramil 0809/02 Pesantren mengerahkan sebelas personel untuk membantu kerja bakti. Suasana pagi itu pun berubah menjadi potret kecil kebersamaan: prajurit, petani, pedagang, dan anak muda bahu-membahu memperbaiki akses menuju makam—menyatukan tenaga demi satu tujuan mulia.

Gotong Royong: Warisan yang Tak Boleh Hilang

Apa yang terjadi di Kelurahan Bawang bukan sekadar kegiatan fisik memperbaiki jalan. Ia adalah pengingat bahwa nilai gotong royong—yang sering terdengar klise di pidato dan slogan—masih hidup, nyata, dan berdenyut di nadi masyarakat.

Ketika dana pemerintah terbatas, mereka tidak menunggu, tidak mengeluh. Mereka memilih bergerak.
Di sela peluh dan debu, mereka membangun bukan hanya jalan menuju makam, tapi juga jalan menuju harapan—bahwa solidaritas masih ada, dan kemanusiaan masih bekerja dalam diam.

Bagikan Berita :