foto : Anisa Fadila

Manusuk Sima: Jejak Sakral di Ujung Sejarah, Menyapa Masa Depan Kota Kediri Mapan

Bagikan Berita :

KEDIRI – Di halaman Balai Kota Kediri yang berselimut pagi Minggu (27/7), getar tradisi dan denyut kebersamaan berpadu dalam prosesi agung Manusuk Sima, menyambut Hari Jadi ke-1146 Kota Kediri. Di bawah langit yang tenang, warga dan tamu undangan larut dalam alunan budaya yang menelusuri akar zaman.

Dengan semangat “Kolaborasi Menuju Kota Kediri Mapan”, peringatan ini diawali kirab Prasasti Kwak, berjalan anggun dari titik awal menuju jantung kota. Saat iring-iringan tiba di halaman balai kota, tari Garudeya menyambut – menebar simbol kekuatan dan pelindung negeri.

Dalam khidmat yang menyentuh, Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, menyerahkan kendil berisi air kepada penari – lambang tanah perdikan yang diberkahi. Air itu pun mengalir perlahan ke tanah, seolah membasuh lembar lama sejarah dan membuka pintu bagi masa depan yang penuh harap.

Magis kian terasa saat tarian kesuburan dan bedhaya digelar. Aroma dupa menari di udara, wangi sesaji mengajak kenangan pulang. Mantra dibacakan, sapata dilantunkan, dan prasasti dideklamasikan – menciptakan ruang batin yang menyatu antara zaman dahulu dan masa kini.

Puncaknya, Prasasti Kwak secara simbolis diserahkan oleh tokoh Mangkudura kepada Wali Kota Vinanda, lalu disimpan dalam kotak kayu – bukan sekadar artefak, melainkan amanah sejarah yang harus dijaga, dijalani, dan diwariskan dalam setiap tapak pembangunan.

“Untuk ketiga kalinya Manusuk Sima digelar di balai kota. Ini penanda bahwa tradisi bukan sekadar romantisme masa silam, tapi pijakan dalam membuat kebijakan. Sejarah adalah kompas menuju masa depan,” ujar Vinanda penuh makna.

Ia lalu mengisahkan, Hari Jadi Kota Kediri merujuk pada Prasasti Kwak yang menetapkan Dusun Kwak sebagai tanah sima pada 27 Juli 879 M – hari yang kini menjadi titik mula perjalanan panjang Kota Kediri.

Dalam orasinya, Vinanda menggarisbawahi pentingnya kolaborasi – bukan semata kerja teknis, melainkan sinergi hidup antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, hingga media.

“Kolaborasi adalah ruh pembangunan. Dengannya, Kediri tak hanya tumbuh, tapi juga mapan secara menyeluruh,” ucapnya mantap.

Tak hanya ritual budaya yang menggetarkan jiwa, Hari Jadi ke-1146 juga diramaikan dengan flashmob tari suka-suka, festival jajanan lokal, serta layanan kesehatan dan donor darah. Wajah-wajah warga memancarkan sukacita – menari, mencicipi, merayakan.

Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Zachrie Ahmad, menyebut setidaknya 30 pelaku UMKM turut memeriahkan festival kuliner tradisional. “Kami ingin Balai Kota tak hanya jadi pusat pemerintahan, tapi juga rumah budaya dan ruang publik yang ramah warga,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, Kota Kediri terus menggeliatkan pariwisata lewat rangkaian event bulanan. Tanpa destinasi alam andalan, kreativitas menjadi modal utama untuk menjemput wisatawan.

“Tahun ini, sekitar 1,7 juta kunjungan tercatat. Mayoritas dari luar kota, terutama dari Surabaya dan daerah lain di Jawa Timur,” ungkapnya.

Hari Jadi ke-1146 bukan sekadar penanda waktu, melainkan jeda untuk merenung dan meneguhkan identitas. Sebuah perayaan yang mengajak warga Kediri menyelami jejak sejarah, memeluk warisan budaya, dan menata langkah menuju masa depan yang lebih terang.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :