Gus Barok, Ketua DK4 saat berziarah ke makam Datuk Tan Malaka (istimewa)

74 tahun Mengenang Ibrahim Datuk Tan Malaka, Makam Pahlawan Nasional Terasingkan di Lembah Selopanggung

KEDIRI – Hari ini merupakan peringatan ke-74 tahun, Tan Malaka atau Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, meninggal di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun. Lahir di Nagari Pandam Gadang Kabupaten Suliki Sumatera Barat, 2 Juni 1897 adalah sosok Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden nomor 53 Tahun 1963 tertanggal 28 Maret 1963.

Tan Malaka merupakan seorang aktivis Kemerdekaan Indonesia, Filsuf, Nasionalis, penggagas berdirinya Republik Indonesia di tahun 1924 dan penggagas dialog komunis dengan Islam. Pada kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai Pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia juga pendiri Partai Republik Indonesia (PARI), serta perintis pendirian Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak).

Buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) dan Gerpolek (Gerilya-Politik dan Ekonomi) keduanya dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka. Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun.

Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, barulah Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara. Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur.

Tim Jurnalis Kediri Berkunjung ke Tanah Kelahiran

Gus Barok bersama jurnalis Kediri berkunjung ke tanah kelahiran Datuk Tan Malaka (istimewa)

Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 di Lereng Gunung Wilis, tepatnya di salah satu lembah di Desa Selopanggung.

Begitu luar biasanya sosok, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kediri (DK4) Agus Imam Mubarrok selalu menyempatkan diri menggelar doa bersama di atas makamnya. “Bagi saya ini merupakan salah satu hari peringatan khusus. Saya datang sendiri untuk nyekar sekaligus berdoa untuk Datuk Tan Malaka di haulnya ke-74. Apapun Tan Malaka adalah pahlawan kemerdekaan yang harusnya diperingati oleh semua warga negara Indonesia termasuk warga Kediri,” ungkapnya, Selasa (21/02).

Menurut Gus Barok demikian akrab disapa, Datuk Tan Malak merupakan sosok bapak bangsa yang memberikan peran penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan. “Harapannya ke depan, pemerintah lebih peduli dengan Tan Malaka, yang atas kehendak Allah beliau gugur di Kediri tepatnya di Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri,” jelasnya.

Jurnalis : Kintan Kinari Astuti
Editor : Nanang Priyo Basuki