1.001 Pecut Menari di Goa Selomangleng Kediri: Tradisi Menjadi Nyanyian Nusantara

Bagikan Berita :

KEDIRI – Langit Goa Selomangleng akan bergema bukan oleh petir, tapi oleh ledakan suara pecut yang melengking serempak. Seribu lebih pemecut akan menari dalam harmoni, membalut kekuatan tradisi dengan keindahan koreografi. Inilah Kejuaraan Pecut Tingkat Nasional 2025, kembali digelar di jantung budaya Kediri, Minggu (3/8)—sebuah perayaan kolosal yang memadukan sejarah, seni, dan jiwa Nusantara dalam satu tarikan cambuk.

Muhammad Hanif, Ketua Pecut Samandiman se-Indonesia, menyampaikan bahwa persiapan telah dimulai sejak Sabtu sore. Para panitia, relawan, dan seniman bekerja tanpa jeda, mengalirkan energi dari Dinas Pariwisata ke panggung megah di Selomangleng, memastikan tiap detil sempurna saat ribuan peserta melangkah masuk.

“Tahun ini istimewa, Kami tak hanya menghadirkan lomba pecut, tapi juga suguhan tari kolosal—1.001 pemecut menari dalam satu irama, dari berbagai provinsi,” ujar Hanif

Sejak resmi mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) pada 2022, Kediri menjelma sebagai episentrum seni pecut di Indonesia. Kota ini bukan sekadar tuan rumah—ia adalah nadi dari ekosistem seni yang hidup, dengan pelatih berpengalaman, pengrajin pecut berdedikasi, hingga komunitas budaya yang tak pernah padam.

Peserta datang dari segala penjuru negeri: dari pesisir Papua, hutan Kalimantan, perbukitan Sumatra, hingga pelosok Jawa. Mereka datang bukan sekadar untuk menang, tapi untuk merayakan sebuah warisan yang menyatukan perbedaan dalam suara yang sama.

Lomba ini tak hanya menilai kecepatan atau kekuatan, tapi rasa. Tiga nilai jadi poros penilaian: rasa (penghayatan jiwa), rogo (tenaga dan teknik), dan wirama (keselarasan gerak dan suara). Tahun ini pun menjadi babak baru dengan kategori beregu, di mana kekompakan lebih diuji—mengayunkan pecut sepanjang 3,5 meter dalam tarian yang megah dan menantang.

Warga Kediri menyambut ajang ini dengan antusias. Hanif menyebut seni pecut sebagai bentuk seni yang lentur, mampu berbaur dengan beragam pertunjukan seperti reog, barongsai, dan bantengan. Seni yang tumbuh, tak membeku.

Puncak acara akan menjadi momen paling menggetarkan: 1.001 pemecut, mulai dari anak-anak TK hingga siswa SMA, hingga wakil-wakil daerah lain, menari bersama dalam getar tanah dan irama udara. Sebuah simbol bahwa pecut tidak pernah mati—ia hidup di tangan generasi muda.

Lebih dari sekadar pertunjukan, Hanif mengajak semua melihat pecut sebagai filosofi hidup. Ia pun menciptakan makna baru: Pecut sebagai singkatan dari “Pelayanan Cepat Umum Terpadu”—gambaran masyarakat yang cekatan, kuat, dan bersatu dalam nilai budaya.

“Pecut bukan cuma alat atau atraksi. Ia bisa menjadi jalan mendidik karakter bangsa,” tutup Hanif.

jurnalis : Anisa Fadila
Bagikan Berita :